A.
Definisi
Pasang Surut
Menurut Pariwono (1989), fenomena
pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat
adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap
massa air di bumi Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan
suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang
diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari
benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda
angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih
kecil.
Menurut Nontji (2005), pasang surut
adalah gerakan naik turunnya permukaan laut secara berirama yang disebabkan
oleh gaya tarik bulan dan matahari. Matahari mempunyai massa 27 juta kali lebih
besar dari massa bulan, tetapi jaraknya pun sangat jauh dari bumi (rata-rata
149,6 juta km) sedangkan bulan sebagai satelit kecil jaraknya sangat dekat ke
bumi (rata-rata 381.160 km). Dalam mekanika alam semesta, jarak lebih
menentukan daripada massa sehingga bulan memiliki pengaruh yang lebih besar
terhadap terjadinya pasang surut. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah
bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut
gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh
deklinasi sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
B.
Teori
Pasang Surut
1. Teori
Kesetimbangan (Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali
diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727). Teori ini menerangkan
sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi pada bumi ideal yang
seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia)
diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding
dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966). Untuk memahami gaya
pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan pergerakan sistem
bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan sistem bumi matahari.
Pada teori kesetimbangan bumi
diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan densitas yang sama dan naik turun
muka laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut atau GPP (Tide
Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal, teori
ini berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan
matahari. Gaya pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi
dan air rendah pada dua lokasi (Gross, 1987).
2. Teori Pasut
Dinamik (Dynamical Theory)
Pond dan Pickard (1978) menyatakan
bahwa dalam teori ini lautan yang homogen masih diasumsikan menutupi seluruh
bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya tarik periodik dapat
membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan konstitue-konstituennya.
Gelombang pasut yang terbentuk dipengaruhi oleh GPP, kedalaman dan luas
perairan, pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh gesekan dasar. Teori ini pertama
kali dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori ini melengkapi teori
kesetimbangan sehingga sifat-sifat pasut dapat diketahui secara
kuantitatif. Menurut teori dinamis, gaya pembangkit pasut menghasilkan
gelombang pasut (tide wive) yang periodenya sebanding dengan gaya pembangkit
pasut. Karena terbentuknya gelombang, maka terdapat faktor lain yang
perlu diperhitungkan selain GPP. Menurut Defant (1958), faktor-faktor tersebut
adalah :
·
Kedalaman perairan dan luas perairan
·
Pengaruh rotasi bumi (gaya corollis)
·
Gesekan dasar
Rotasi bumi
menyebabkan semua benda yang bergerak di permukaan bumi akan berubah arah
(Coriolis Effect). Di belahan bumi utara benda membelok ke kanan,
sedangkan di belahan bumi selatan benda membelok ke kiri. Pengaruh ini
tidak terjadi di equator, tetapi semakin meningkat sejalan dengan garis lintang
dan mencapai maksimum pada kedua kutub. Besarnya juga bervariasi
tergantung pada kecepatan pergerakan benda tersebut.
Menurut Mac Millan (1966) berkaitan dengan dengan fenomeana pasut, gaya
Coriolis mempengaruhi arus pasut. Faktor gesekan dasar dapat mengurangi
tunggang pasut dan menyebabkan keterlambatan fase (Phase lag) serta
mengakibatkan persamaan gelombang pasut menjadi non linier semakin dangkal
perairan maka semaikin besar pengaruh gesekannya.
C. Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut
Faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan
adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi
bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman
dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar.
Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut
disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan
sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan.
Pasang surut
laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi
secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak.
Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua
kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut
laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya
tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan
dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari
tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu
rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
Bulan dan
matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan terhadap bumi yang besarnya
tergantung kepada besarnya masa benda yang saling tarik menarik tersebut. Bulan
memberikan gaya tarik (gravitasi) yang lebih besar dibanding matahari.
Hal ini disebabkan karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi
posisinya lebih dekat ke bumi. Gaya-gaya ini mengakibatkan air laut, yang
menyusun 71% permukaan bumi, menggelembung pada sumbu yang menghadap ke
bulan. Pasang surut terbentuk karena rotasi bumi yang berada di bawah
muka air yang menggelembung ini, yang mengakibatkan kenaikan dan penurunan
permukaan laut di wilayah pesisir secara periodik. Gaya tarik gravitasi
matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil.
Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut selama
periode sedikit di atas 24 jam.
D. Tipe Pasang Surut
Perairan
laut memberikan respon yang berbeda terhadap gaya pembangkit pasang
surut,sehingga terjadi tipe pasang surut yang berlainan di sepanjang pesisir.
Menurut
Dronkers (1964), ada tiga tipe pasang surut yang dapat diketahui, yaitu :
Pasang surut diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi
satu satu kali pasang dan satu kali surut. Biasanya terjadi di laut
sekitar katulistiwa.
pasang surut semi diurnal. Yaitu bila dalam
sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang hampir sama tingginya.
pasang surut campuran. Yaitu gabungan dari tipe
1 dan tipe 2, bila bulan melintasi khatulistiwa (deklinasi kecil), pasutnya
bertipe semi diurnal, dan jika deklinasi bulan mendekati maksimum, terbentuk
pasut diurnal.
Menurut
Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu :
Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide)
Merupakan
pasut yang hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari,
ini terdapat di Selat Karimata.
Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide)
Merupakan
pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya
hampir sama dalam satu hari, ini terdapat di Selat Malaka hingga Laut Andaman.
Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed
Tide, Prevailing Diurnal)
Merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut
tetapi terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda
dalam tinggi dan waktu, ini terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai
Utara Jawa Barat.
Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed
Tide, Prevailing Semi Diurnal)
Merupakan pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam
sehari tetapi terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan
memiliki tinggi dan waktu yang berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan
Indonesia Bagian Timur.
E. Jenis-Jenis Pasang Surut Air Laut
Ada
beberapa jenis pasang surut air laut yang perlu kita ketahui:
Pasang Laut Purnama.
Pasang
laut ini terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis
lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang naik yang sangat tinggi dan pasang
surut yang rendah.
Pasang Laut Perbani.
Pasang
laut ini terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus.
Pada saat itu akan dihasilkan pasang naik yang rendah dan pasang surut yang
tinggi.
Pasang
laut Perbani terjadi pada saat bulan seperempat dan tiga perempat.
F. Alat-Alat Pengukuran Pasang Surut
Beberapa
alat prngukuran pasang surut diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Tide Staff.
Alat ini
berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter.
Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan.Tide Staff (papan
Pasut) merupakan alat pengukur pasang surut paling sederhana yang umumnya
digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air
laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau
bahan lain yang di cat anti karat.
Syarat pemasangan
pasang pasut adalah :
Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada
surut terendah masih tergenang oleh air.
Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias
atau pada daerah aliran sungai (aliran debit air).
Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau
aktivitas yang menyebabkan air bergerak secara tidak teratur.
Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat
yang mudah untuk diamati dan dipasang tegak lurus.
Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya
dermaga sehingga papan mudah dikaitkan.
Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang
ada sehingga data pasang surut mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi.
Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya
papan harus stabil.
Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari
arus dan sampah.
2.
Tide gauge.
Merupakan
perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis.
Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang
kemudian direkam ke dalam komputer. Tide gauge terdiri dari dua
jenis yaitu :
Floating tide gauge (self registering)
Prinsip
kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut yang dapat
diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording
unit). Pengamatan pasut dengan alat ini
banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan cara rambu
pasang surut.
Pressure tide gauge (self registering)
Prinsip
kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun
perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar
laut yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga
selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini jarang
sekali dipakai untuk pengamatan pasang surut.
3.
Satelit.
Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya sistem
satelit Geos-3. Pada saat ini secara
umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang
yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es
kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. Prinsip Dasar
Satelit Altimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar pulsa
radar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam
berakurasi tinggi. Pada sistem ini,
altimeter radar yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang
elektromagnetik (radar) kepermukaan laut.
Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima
kembali oleh satelit. Prinsip penentuan perubahan kedudukan muka laut dengan
teknik altimetri yaitu pada dasarnya satelit altimetri bertugas mengukur jarak
vertikal dari satelit ke permukaan laut. Karena tinggi satelit di atas
permukaan ellipsoid referensi diketahui maka tinggi muka laut (Sea Surface
Height atau SSH) saat pengukuran dapat ditentukan sebagai selisih antara tinggi
satelit dengan jarak vertikal. Variasi
muka laut periode pendek harus dihilangkan sehingga fenomena kenaikan muka laut
dapat terlihat melalui analisis deret waktu (time series analysis). Analisis deret waktu dilakukan karena kita
akan melihat variasi temporal periode panjang dan fenomena sekularnya.
F. Pasang Surut Perairan di Indonesia
Indonesia
merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh dua lautan yaitu Samudera
Indonesia dan Samudera Pasifik serta posisinya yang berada di garis katulistiwa
sehingga kondisi pasang surut, angin, gelombang, dan arus laut cukup
besar. Hasil pengukuran tinggi pasang surut di wilayah laut Indonesia
menunjukkan beberapa wilayah lepas laut pesisir daerah Indonesia memiliki
pasang surut cukup tinggi. Gambar 15 memperlihatkan peta pasang surut
wilayah lautan Indonesia. Dari gambar tersebut tampak beberapa wilayah lepas
laut pesisir Indonesia yang memiliki pasang surut cukup tinggi antara lain
wilayah laut di timur Riau, laut dan muara sungai antara Sumatera Selatan dan
Bangka, laut dan selat di sekitar pulau Madura, pesisir Kalimantan Timur, dan
muara sungai di selatan pulau Papua.
Keadaan
pasang surut di perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran pasang surut dari
Samudra Pasifik dan Hindia serta morfologi pantai dan batimeri perairan yang
kompleks dimana terdapat banyak selat, palung dan laut yang dangkal dan laut
dalam. Keadaan perairan tersebut membentuk pola pasang surut yang
beragam. Di Selat Malaka pasang surut setengah harian (semidiurnal)
mendominasi tipe pasut di daerah tersebut. Berdasarkan pengamatan pasang
surut di Kabil, Pulau Batam diperoleh bilangan Formzhal sebesar 0,69 sehingga
pasang surut di Pulau Batam dan Selat Malaka pada umumnya adalah pasut bertipe
campuran dengan tipe ganda yang menonjol. Pasang surut harian (diurnal)
terdapat di Selat Karimata dan Laut Jawa. Berdasarkan pengamatan pasut di
Tanjung Priok diperoleh bilangan Formzhal sebesar 3,80. Jadi tipe pasut
di Teluk Jakarta dan laut Jawa pada umumnya adalah pasut bertipe tunggal.
Tunggang pasang surut di perairan Indonesia bervariasi antara 1 sampai dengan 6
meter. Di Laut Jawa umumnya tunggang pasang surut antara 1 – 1,5 m
kecuali di Selat madura yang mencapai 3 meter. Tunggang pasang surut 6
meter di jumpai di Papua.
G. Tabel Pasang Surut Air Laut Central Indonesia
H. Pengaruh Pasang Surut Terhadap Organisme
Terjadinya pasang surut memberikan
pengaruh terhadap kondisi lingkungan perairan. Misalnya Gerakan air vertikal
yang berhubungan dengan naik dan turunnya pasang surut, diiringi oleh gerakan
air horizontal yang disebut dengan arus pasang surut. Permukaan air laut
senantiasa berubah-ubah setiap saat karena gerakan pasut, keadaan ini juga
terjadi pada tempat-tempat sempit seperti teluk dan selat, sehingga menimbulkan
arus pasut(Tidal current). Gerakan arus pasut dari laut lepas yang merambat ke
perairan pantai akan mengalami perubahan, faktor yang mempengaruhinya antara
lain adalah berkurangnya kedalaman.
Menurut King (1962), arus yang
terjadi di laut teluk dan laguna adalah akibat massa air mengalir dari
permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah yang disebabkan oleh
pasut. Arus pasang surut adalah arus yang cukup dominan pada perairan teluk
yang memiliki karakteristik pasang (Flood) dan surut atau ebb. Pada waktu
gelombang pasut merambat memasuki perairan dangkal, seperti muara sungai atau
teluk, maka badan air kawasan ini akan bereaksi terhadap aksi dari perairan
lepas.
Pada daerah-daerah di mana arus
pasang surut cukup kuat, tarikan gesekan pada dasar laut menghasilkan potongan
arus vertikal, dan resultan turbulensi menyebabkan bercampurnya lapisan air
bawah secara vertikal. Pada daerah lain, di mana arus pasang surut lebih lemah,
pencampuran sedikit terjadi, dengan demikian stratifikasi (lapisan-lapisan air
dengan kepadatan berbeda) dapat terjadi. Perbatasan antar daerah-daerah kontras
dari perairan yang bercampur dan terstratifikasi seringkali secara jelas
didefinisikan, sehingga terdapat perbedaan lateral yang ditandai dalam
kepadatan air pada setiap sisi batas.
Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut
air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah.
Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua,
yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter.
Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan
tanah basah/wetlands. Pengaruh pasang-surut terhadap organisme dan komunitas
zona intertidal paling jelas adalah kondisi yang menyebabkan daerah intertidal
terkena udara terbuka secara periodik dengan kisaran parameter fisik yang cukup
lebar. Organisme intertidal perlu kemampuan adaptasi agar dapat menempati
daerah ini.
Faktor-faktor fisik pada keadaan
ekstrem dimana organisme masih dapat menempati perairan, akan menjadi pembatas
atau dapat mematikan jika air sebagai isolasi dihilangkan.
Kombinasi antara pasang-surut dan waktu dapat menimbulkan dua akibat langsung
yang nyata pada kehadiran dan organisasi komunitas intertidal. Pertama,
perbedaan waktu relatif antara lamanya suatu daerah tertentu di intertidal
berada diudara terbuka dengan lamanya terendam air. Lamanya terkena udara
terbuka merupakan hal yang sangat penting karena pada saat itulah organisme
laut akan berada pada kisaran suhu terbesar dan kemungkinan mengalami
kekeringan. Semakin lama terkena udara, semakin besar kemungkinan mengalami
suhu letal atau kehilangan air diluar batas kemampuan. Kebanyakan hewan ini
harus menunggu sampai air menggenang kembali untuk dapat mencari makan. Semakin
lama terkena udara, semakin kecil kesempatan untuk mencari makan dan
mengakibatkan kekurangan energi. Flora dan fauna intertidal bervariasi kemampuannya
dalam menyesuaikan diri terhadap keadaan terkena udara, dan perbedaan ini yang
menyebabkan terjadinya perbedaan distribusi organisme intertidal.
Pengaruh kedua adalah akibat lamanya zona intertidal berada diudara terbuka.
Pasang-surut yang terjadi pada siang hari atau malam hari memiliki pengaruh
yang berbeda terhadap organisme. Surut pada malam hari menyebabkan daerah
intertidal berada dalam kondisi udara terbuka dengan kisaran suhu relatif lebih
rendah jika dibanding dengan daerah yang mengalami surut pada saat siang hari.
Pengaruh pasang-surut yang lain
adalah karena biasanya terjadi secara periodik maka pasang-surut cenderung
membentuk irama tertentu dalam kegiatan organisme pantai, misalnya irama
memijah, mencari makan atau aktivitas organisme lainnya.
1. Biota pada
zona intertidal
Menurut Prajitno, 2009. Biota pada
ekosistem pantai berbatu adalah salah satu daerah ekologi yang paling familiar,
habitat dan interaksinya sudah diketahui oleh ilmuan, penelitian diadakan di
pulau cruger yang pantai utaranya merupakan (freshwater) air tawar dan berbatu.
Fauna pada pantai berbatu pulau cruger berkarakteristik dominan pada binatang
air tawar. Sebagian besar berupa Dipterans, Nematodes, Microannelida,
Gastropoda,Bivalves dan Flatworms secara keseluruhan, macroinvertebrate yang
ada di pantai ini berasal dari golongan Tubellaria, Nematoda, Oligochaeta,
Gastropoda, Dreissna, Acari, Amphipoda, Ephemeroptera, Trichoptera, coteoptera,
Ceratopogonidae, Chironomidae. Sama seperti lingkungan air tawar, serangga
menjadi hal umum dicruger Island. Serangga yang terdapat adalah Epheraroptera,
Trichoptera, coleoptera dan diptera.
Menurut Nybakken, 1988. Dilingkungan
laut khususnya di intertidal. Spesies yang berumur panjang cenderung terdiri
dari berbagai hewan inverbrata.hewan-hewan intertidal dominan yang menguasai
ruang selain Mytilus californianus yang terdapat dalam jumlah banyak di pesisir
pasifik adalah teritip Balanus Cariogus dan Balanus glandula. Dua spesies
tersebut terdapat melimpah di wilayah intertidal walaupun kenyataannya mereka
bersaing dengan M.californianus hal ini menyebabkan pertumbuhan teritip dapat
berlangsung dengan baik. Pisaster Ochraceus merupakan predator kerang yang
rakus sehingga secara efektif mencegah kerang menempati seluruh ruang.
Pantai yang terdiri dari batu-batuan
(rocky shore) merupakan tempat yang sangat baik bagi hewan-hewan atau
tumbuhan-tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini. Golongan ini
termasuk banyak jenis gastropoda, moluska dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran
besar. Dua spesies Uttorina undulata dan tectarius malaccensis, tinggal dan
hidup di bagian batas atas dari pantai di bawahnya berturut-turut ditempati
oleh jenis spesies lain monodonta labio dan Nerita undata. Kemudian oleh
cerithium morus dan turbo intercostalis. Akhirnya pada batas yang paling bawah
terdapat lambis-lambis dan trochus gibberula (Hutabarat, 2008).
2. Pola
adaptasi organism intertidal
Bentuk adaptasi adalah mncakup
adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi
structural merupakan cara hidup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan
struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh sesuai dengan keadaan
lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara
makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara penyesaian
proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah
respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah
laku.
Organisme intertidal memilki
kemampuan untuk beradaptasi dngan kondisi lingkungan yang dapat berubah secara
signifikan, pola tersebut meliputi:
Daya Tahan terhadap Kehilangan air
Organisme
laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan air.
Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada
hewan-hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon. Hewan-hewan tersebut
memiliki bentuk morfologi seperti memiliki alat gerak yang baik untuk melakukan
pergerakan yang cepat, serta struktur tubuh yang ditutupi oleh zat kapur yang
cukup kuat.
Pemeliharaan Keseimbangan Panas
Organisme
intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang
ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk
menjaga keseimbangan panas internal. Contoh pada siput dan kerang-kerangan
ketika pasang maka siput tersebut akan mengeluarkan badannya dari cangkang
untuk melakukan aktivitas, sedangkan ketika keadaan surut yang mengakibatkan
keberadaan siput tersebut terdedah dengan mendapatkan suhu lingkungan yang
ekstrim, maka tubuhnya akan dimasukkan ke dalam cangkang, untuk tetap
mempertahankan suhu tubuhnya yang stabil.
Tekanan mekanik
Gerakan
ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada pantai
berpasir. Untuk mempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organism
intertidal telah membentuk beberapa adaptasi.
Pernapasan
Diantara
hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai
tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat
terlihat jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel
yang dilindungi cangkang. Contoh hewan ini adalah Bivalvia.
Cara Makan
Pada waktu
makan, seluruh hewan intertidal harusmengeluarkan bagian-bagian berdaging dari
tubuhnya. Karena ituseluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan
tubuhnyaterendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan,
pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator.
Reproduksi
Kebanyakan
organisme intertidal hidup menetap atau bahkan melekat, sehingga dalam
penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai
plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama
dengan munculnya arus pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang
purnama.