`Alang-alang Kecil Merajut Mimpi`
Quote ini aku tulis di
lembar harianku. Aku meletakkan pena dalam saku. Sekejap saja pandanganku
takjub. Tampak 3 orang pembangun sekolah ini, yang hanya menggunakan kaos
kemeja, celana training dan sepatu boot segera menghentikan pekerjaan mereka
membabat ilalang. Mereka memanggil anak-anak dan mengucapkan selamat datang
padaku.
Ya,
Tuhan, betapa anugerah-Mu sungguh nikmat. Kala terpuruk, aku segera sampai pada
sebuah simpulan bahwa aku adalah manusia paling menderita di dunia ini.
Ternyata salah. Penderitaanku tak ada arti apa-apa dibanding mereka yang ada di
hadapanku saat ini. Di depan mataku mereka menagih masa depan. Di hadapanku,
mereka menagih tanggung jawabku. Tanggung jawab kami, para relawan program
Sobat Bumi yang diusung oleh Pertamina Foundation.
Aku
bersandar pada papan nama sekolah SD Alang-alang Kecil V, Kecamatan Skanto,
Kabupaten Keerom, Papua yang telah usang. Memandangi sekeliling yang penuh
ilalang. Teringat pesan Ayahku.
"Jadilah
seperti ilalang, Nak. Tumbuhan ini bisa hidup di tempat seperti apapun. Hutan
tandus. Tanah kering. Pasir berbatu. Seperti itulah hidup dan ilmumu. Laksana
ilalang yang bisa hidup di manapun".
Aku
berjalan mendekati mereka. Memainkan jemari di antara ilalang hutan yang tampak
lembut itu. Awww, ilalang ini sangat tajam rupanya. Ia mampu menembus kulit ari
terdalam hingga membekaskan luka. Aku semakin percaya bahwa ilalang tajam ini
serupa semangat anak-anak sd alang-alang kecil. Rapuh di luar, tajam di dalam.
***
"Bu Guru, jalan ke sekolah banjir. Apakah
tetap pergi?"
Pesan singkat dari Pak Hery, guru olahraga
Sekolah Alang-lang, muncul secara tiba-tiba. Aku sudah bangun lebih pagi dari
biasanya. Rasanya tidak mungkin membunuh semangat ini. "Kita berangkat
saja, Pak".
Sungai Skanto telah berubah coklat. Airnya
mengalir deras. Aku hanya mengamati punggung orang-orang yang berusaha
melintasi sungai ini. Tampak juga motor dipikul menggunakan bambu karena
tiba-tiba mati di muara sungai. Di atas sungai ada jembatan besar tetapi rapuh.
Kini, masih dalam kondisi diperbaiki. Tak tahulah kapan selesai. Menyeberang
sungai ini butuh semangat dan kepercayaan. Adakah yang menjualnya untukku?
"Jika balik atau memutar, kita akan terlambat
sampai di sekolah, Bu Ayu".
Perjalanan semacam ini tidak ada dalam surat
kontrakku. Tanpa alas aku bersama Pak Hery menyebrangi sungai. Kami hanya
tertawa kecil dan segera mempercepat langkah. Pak Hery khawatir jika anak-anak
terlalu lama menunggu kedatangan kami, mereka akan pulang lagi.
Beginilah tugas kami. Bagaimana membuat mereka
percaya bahwa mereka bisa melakukan perubahan positif dalam hidup mereka. Salah
satu yang bisa membantu mereka menemukan "hidup" yang sesungguhnya
adalah lewat pendidikan. Masih ada hari-hari berikutnya yang akan kami lalui di
tanah pedalaman Papua.
Semoga kehadiran kami disini dapat membantu
alang-alang kecil ini merajut mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar